Viral di Media Sosial, Benarkah Minyak Kayu Putih Bisa Hemat BBM?

Belakangan ini, klaim mengenai manfaat mencampurkan minyak kayu putih ke dalam bensin untuk menghemat konsumsi bahan bakar kendaraan beredar luas di berbagai platform media sosial. Unggahan-unggahan tersebut menyebutkan bahwa campuran tersebut mampu meningkatkan efisiensi bahan bakar secara signifikan, dan informasi itu dikaitkan dengan beberapa penelitian dari lingkungan perguruan tinggi di Indonesia.

Kandungan Kimia Minyak Kayu Putih dan Potensinya

Dari sudut pandang kimia, minyak kayu putih termasuk dalam kelompok minyak atsiri dengan komponen utama bernama 1,8-cineole atau eucalyptol. Senyawa ini mengandung unsur oksigen yang dalam beberapa penelitian dinilai berpotensi mendukung proses pembakaran campuran udara dan bahan bakar agar berlangsung lebih sempurna di dalam mesin.

Apa Kata Penelitian?

Beberapa penelitian yang banyak dirujuk berasal dari Jurnal Transmisi Universitas Merdeka (UNMER) Malang, Jurnal Pendidikan Teknik Mesin (JPTM) Universitas Negeri Surabaya (UNESA), serta publikasi ilmiah dari peneliti Utomo dan Arsana pada tahun 2020.

  • Penelitian pada motor Honda CS1 150 PGM-FI menemukan bahwa campuran sekitar 8 persen minyak kayu putih berpotensi menurunkan konsumsi bahan bakar hingga 35,78 persen, meningkatkan torsi sekitar 2,22 persen, menaikkan daya 2,53 persen, sekaligus menurunkan emisi karbon monoksida (CO) dan hidrokarbon (HC).
  • Penelitian pada Honda Supra X 125R menunjukkan bahwa penambahan sekitar 4 mililiter minyak kayu putih per liter bensin cenderung meningkatkan performa sekaligus mengurangi konsumsi bahan bakar.
  • Penelitian oleh Winoko dan Nugroho (2021) yang dimuat dalam Jurnal Transmisi mencatat adanya peningkatan daya mesin pada motor 150 cc dengan campuran minyak kayu putih sekitar 6 persen. Namun, campuran yang lebih tinggi, yakni 9 persen, justru tidak memberikan hasil yang lebih optimal, sehingga diketahui terdapat komposisi yang paling efektif.

Peringatan dari Para Ahli

Meskipun sejumlah penelitian menunjukkan hasil yang menjanjikan, para ahli memberikan catatan penting terkait validitas dan keamanan praktik tersebut.

Ahli Konversi Energi dari Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Tri Yuswidjajanto Zaenuri, menyatakan bahwa minyak kayu putih memang sudah lama dikaitkan dengan peningkatan performa mesin. Namun, karakteristik minyak tersebut berpotensi mengurangi kemampuan pelumasan bahan bakar atau lubricity apabila digunakan secara terus-menerus.

Prof. Tri juga menegaskan bahwa hingga kini belum tersedia penelitian jangka panjang yang membuktikan keamanan campuran minyak kayu putih terhadap komponen sistem bahan bakar maupun mesin kendaraan. Ia menilai efek penghematan yang dirasakan pengguna kemungkinan besar relatif kecil dan dapat dipengaruhi oleh persepsi subjektif pengguna itu sendiri.

Peneliti dari Balai Pengujian Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS), Muhamad Fuad, turut menambahkan bahwa meskipun minyak kayu putih memiliki karakteristik menarik sebagai kandidat bioaditif berkat nilai kalor dan kandungan oksigennya, pemanfaatannya sebagai aditif komersial masih memerlukan penelitian lanjutan yang mencakup aspek stabilitas, kompatibilitas dengan sistem bahan bakar, serta dampaknya terhadap keawetan mesin dalam jangka panjang.

Apakah Pencampuran Ini Direkomendasikan?

Berdasarkan berbagai sumber yang relevan, penambahan zat aditif apa pun ke dalam bahan bakar minyak (BBM), termasuk minyak kayu putih, pada dasarnya tidak direkomendasikan. Hal ini karena pencampuran tersebut dapat mengubah spesifikasi bahan bakar yang telah ditetapkan secara resmi oleh produsen. Apabila bahan bakar telah dimodifikasi dengan zat tambahan tertentu, kualitasnya tidak lagi sesuai dengan standar awal yang berlaku.

Kesimpulan

Hingga saat ini, belum dapat dipastikan bahwa mencampurkan minyak kayu putih ke dalam bensin akan secara konsisten membuat kendaraan lebih irit dalam penggunaan sehari-hari. Sejumlah penelitian memang menunjukkan adanya potensi peningkatan efisiensi pembakaran pada kondisi-kondisi tertentu, namun seluruh bukti tersebut masih terbatas pada skala laboratorium dengan durasi pengujian yang relatif singkat dan belum didukung oleh uji penggunaan jangka panjang yang komprehensif.

Sumber: ANTARA News Otomotif